Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia

Advertisemen

Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia


Penyakit Pada Ginjal

Posted: 07 Mar 2015 10:00 PM PST

DokterSehat.Com – Dengan berat hanya sekitar 150 gram atau sebesar kira-kira separuh genggaman tangan kita, ginjal memiliki fungsi sangat strategis dalam mempengaruhi kinerja semua bagian tubuh. Selain mengatur keseimbangan cairan tubuh, eletrolit, dan asam basa, ginjal juga akan membuang sisa metabolisme yang akan meracuni tubuh, mengatur tekanan darah dan menjaga kesehatan tulang.

Ada banyak penyakit pada ginjal yang sering dialami penderita penyakit ginjal. Tiap penyakit pada ginjal memiliki gejala, ciri, penyebab dan pengobatan yang berbeda. Pada kesempatan ini kita akan melihat penyakit apa saja yang sering terjadi pada ginjal kita.

Penyakit pada ginjal :

  • Albuminuria penyakit pada ginjal
    Albuminura adalah terdapatnya atau adanya albumin dan protein lain dalam urine. Terjadinya albuneria menunjukkan terjadinya kerusakan pada alat filtrasi dalam ginjal.
  • Nefritis penyakit pada ginjal
    Nefritis merupakan penyakit infeksi pada ginjal. Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh bakteri Streptococcus yang masuk melalui saluran pernapasan lalu ikut terbawa oleh darah menuju ginjal. Infeksi ini menyebabkan peradangan. Peradangan tersebut menyebabkan ketidakmampuan ginjal untuk menyaring sel-sel darah dan protein yang masuk bersama dengan urin primer. Seain itu, peradangan juga dapat menyebabkan urea yang masuk ke dalam darah melebihi batas normal. Kondisi ini disebut dengan uremia. Adanya urea di dalam darah dapat menyebabkan penyerapan air terganggu, kemudian air akan mengumpul pada kaki atau bagian tubuh lainnya. Kondisi ini disebut dengan edema.
  • Polyura penyakit pada ginjal
    Polyura yaitu urine yang dikeluarkan oleh tubuh amat banyak dan encer karena kemampuan nefron untuk mengadakan reabsorsi sangat rendah atau gagal.
  • Oligouria penyakit pada ginjal
    Oligouria adalah bila urine yang dihasilkan sangat sedikit karena kerusakan ginjal secara total.
  • Batu ginjal penyakit pada ginjal
    Batu ginjal merupakan penyakit yang terjadi karena adanya sesuatu yang mengendap pada rongga ginjal atau kandung kemih. Endapan tersebut dapat terbentuk dari senyawa kalsium dan penumpukan asam urat. Sering menahan buang air kecil dan kurang minum dapat menjadi penyebab terbentuknya batu ginjal. Selain itu, batu ginjal juga dapat disebabkan oleh kelainan metabolisme yang menyebabkan terjadinya penumpukan asam urat dan senyawa kalsium. Penyakit batu ginjal dapat diatasi dengan obat-obatan tertentu. Dengan perkembangan teknologi, batu ginjal dapat dihancurkan dengan menggunakan sinar laser. Batu ginjal akan menjadi serpihan kecil yang kemudian keluar bersama urin. Namun, pengobatan dengan obat-obatan dan sinar laser hanya untuk batu ginjal yang berukuran kecil. Batu ginjal yang sudah membesar dapat diangkat melalui proses operasi.
  • Glikosuria penyakit pada ginjal
    Glikosuria adalah ditemukannya glukosa pada urine.
  • Hematuria penyakit pada ginjal
    Hematuria, adalah ditemukannya sel darah merah pada urine.
  • Ketosis penyakit pada ginjal
    Ketosis adalah ditemukannya keton di dalam sel darah.
  • Gagal ginjal penyakit pada ginjal
    Anuria atau gagal ginjal adalah kegagalan ginjal dalam membuat urin. Kondisi ini disebabkan oleh glomerulus yang mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut penyebabkan proses penyaringan tidak bisa dilakukan sehingga urin yang dihasilkan tidak ada. Penderita gagal ginjal dapat ditangani dengan menggunakan ginjal buatan yang prosesnya dikenal dengan cuci darah. Cuci darah tersebut menggunakan suatu alat yang disebut dengan mesin hemodialisis. Pilihan lain untuk penderita gagal ginjal adalah dengan cangkok ginjal. Kelemahannya adalah sulitnya mencari donor ginjal yang cocok untuk tubuh penderita.
  • Diabetes insipidus penyakit pada ginjal
    Diabetes insipidus Diabetes insipidus adalah penyakit akibat kekurangan hormon ADH (hormon anti diuretik). Hormon ADH adalah hormon yang berfungsi untuk mempermudah proses penyerapan air pada pembuluh distal dan pembuluh pengumpul. Bila konsentrasi air yang ada dalam darah turun (cairan darah lebih pekat), maka akan terjadi sekresi hormon ADH dan hormon tersebut dialirkan bersama dengan darah. Urin yang dihasilkan nantinya berjumlah sedikit. Sebaliknya, bila darah mengandung konsentrasi air yang tinggi (darah lebih encer), maka hormon ADH yang disekresikan berkurang dan urin yang dihasilkan banyak dan encer. Pada penderita diabetes insipidus, volume urin yang dihasilkan lebih banyak dari keadaan normal, bahkan bisa sampai 30 kali dari volume urin yang normal. Akibatnya, buang air kecil sering dilakukan oleh penderita.
  • Diabetes militus penyakit pada ginjal
    Diabetes melitus (kencing manis) merupakan penyakit yang disebabkan oleh rendahnya kadar hormon insulin yang ada dalam tubuh. Kadar insulin yang rendah dapat mengganggu proses perombakan glukosa menjadi glikogen, akibatknya kadar gluosa yang ada di dalam darah mengalami peningkatan. Kadar glukosa yang meningkat tidak dapat diserap kembali sehingga glukosa akan keluar bersama dengan urin.
  • Kencing batu penyakit pada ginjal
    Kencing Batu tanda: sulit buang urine penyebab: pengendapan zat kapur dalam ginjal pengobatan: pembedahan, obat-obatan dan penembakan dengan sinar laser.

Terlalu Banyak Duduk Akan Meningkatkan Risiko Diabetes

Posted: 07 Mar 2015 08:00 PM PST

DokterSehat.Com – Kabar buruk terutama bagi anda yang seorang pegawai kantoran, di mana anda harus duduk berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan anda. Duduk terlalu lama akan memperbesar peluang seseorang untuk mengalami diabetes tipe 2, sebuah penelitian menunjukkan.

Memberitahu orang-orang untuk menghindari duduk dalam waktu yang lama bahkan dianggap lebih efektif untuk mencegah diabetes daripada harus menasihati mereka untuk melakukan olahraga yang cukup, ujar para peneliti dari Inggris.

Pasien diabetes biasanya disarankan untuk melakukan olahraga rutin yang cukup setidaknya 150 menit seminggu agar tubuh tetap fit dan terhindar dari obesitas ataupun diabetes. Namun temuan dari dua penelitian menunjukkan bahwa mengurangi waktu duduk hingga 90 menit sehari dapat memberikan manfaat kesehatan yang penting.

Membatasi lama waktu seseorang untuk duduk baik di rumah maupun kantor bisa menjadi strategi yang efektif dan berguna dalam memerangi epidemi diabetes, ujar Joseph Henson, pemimpin penelitian dari University of Leicester.

Penelitian ini melibatkan dua penelitian yang terdiri dari 153 orang dewasa. Penelitian pertama melibatkan orang dewasa dengan usia rata-rata 33 tahun, sementara penelitian yang satunya melibatkan orang dewasa yang lebih tua dengan usia rata-rata usia 65 tahun. Pada setiap penelitiannya, para peneliti membandingkan waktu yang dihabiskan untuk duduk, serta jumlah waktu yang digunakan untuk berolahraga.

Para peneliti menemukan bahwa waktu yang dihabiskan untuk duduk terlalu lama secara signifikan terkait dengan tingginya gula darah, kadar kolesterol, dan faktor risiko lainnya yang menyebabkan penyakit jantung dan diabetes. Namun demikian, temuan ini belum bisa membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara duduk dan diabetes. Walaupun begitu, Henson berharap para dokter dapat memberitahu kepada pasiennya tentang temuan ini.

Selama ini, program pencegahan penyakit diabetes dan kardiovaskular hanya berkonsentrasi pada olahraga, di mana hal tersebut memang penting dan mendasar bagi kesehatan kardiometabolik, kata Henson. Menasehati orang untuk rutin berolahraga memang membantu, namun akan lebih efektif lagi jika mereka lebih didorong untuk mengurangi duduk dan bergerak lebih banyak, tambah dia.

Advertisemen