Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia |
- Ketika Flu Menyerang Coba Konsumsi makanan ini
- Mengenal Penyakit Kanker Untuk Memahami Cara Mencegahnya
- Blueberry Bisa Cegah Kanker dan Diabetes?
- Perut Terasa Sakit Dan Susah Buang Air Kecil
- Beragam Manfaat Daun Ketumbar Bagi Kesehatan
- Orang Optimis Memiliki Jantung Lebih Sehat
- Mengenal Nyeri Psikogenik
| Ketika Flu Menyerang Coba Konsumsi makanan ini Posted: 07 Feb 2015 07:00 AM PST DokterSehat.Com – Ketika musim hujan tiba, kondisi tubuh jadi lebih berisiko untuk terkena serangan beragam penyakit. Penyakit yang kerap terjadi di musim penghujan adalah flu, di mana penyakit ini termasuk salah satu penyakit yang cepat menular. Flu terjadi karena adanya infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan termasuk tenggorokan, hidung, serta paru-paru. Salah satu efek yang ditimbulkan penyakit flu adalah daya tubuh yang cenderung melemah. Namun demikian, anda tidak perlu khawatir akan hal tersebut karena ada beberapa cara sederhana yang bisa anda lakukan untuk mengembalikan kebugaran tubuh anda. Adapun salah satu cara mudah yang bisa melawan flu atau pilek adalah dengan mengonsumsi makanan-makanan tertentu yang bisa membantu membangun sel-sel sehat dalam tubuh. Apa saja makanan tersebut? Simak ulasannya berikut ini :
|
| Mengenal Penyakit Kanker Untuk Memahami Cara Mencegahnya Posted: 07 Feb 2015 04:29 AM PST DokterSehat.Com – Memahami definisi kanker atau pengertian kanker sangat penting dan sangat bermanfaat. Pemahaman yang baik akan kanker akan membantu kita untuk bisa membedakan antara penyakit kanker dangan penyakit lainnya. Saat ini penyakit kanker sudah di yakini sebagai penyebab kematian terbesar kedua setelah penyakit jantung koroner. Bahkan WHO memperkirakan sekitar 84 juta orang akan meninggal akibat penyakit kanker dalam rentang waktu tahun 2005 sampai 2015, dan sekitar 80% kematian akibat penyakit kanker tersebut terjadi di wilayah Negara-negara dengan tingkat penghasilan rendah atau Negara berkembang, termasuk Indonesia tentunya. Ironisnya, sebagai salah satu Negara dengan pengidap penyakit kanker terbanyak, kita belum banyak melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat luas tentang penyakit kanker. Hampir sebagian besar kita tentu pernah mendengar istilah penyakit kanker, namun ketika diminta menjelaskan tentang penyakit kanker maka hampir sebagian besar kita juga tak mampu menjelaskannya. Hal ini disebabkan oleh minimnya tingkat kepedulian kita untuk belajar dan mencari pengetahuan tentang penyakit kanker. Lebih ironis lagi karena hal tersebut disebabkan oleh ketakutan kita akan penyakit kanker. Jadi rasa takut terhadap penyakit kanker justru membuat kita merasa takut untuk mengetahui, belajar dan mengenal tentang penyakit kanker. Padahal dengan memiliki pengetahuan tentang panyakit kanker kita bisa mengambil tindakan-tindakan yang tepat untuk menangani gejala penyakit kanker dengan lebih cepat. Dan yang paling penting adalah kita memahami apa saja hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah serangan penyakit kanker. Secara sederhana penyakit kanker sebenarnya adalah kondisi tidak terkontrolnya pertumbuhan tubuh. Hal ini disebabkan adanya sel dalam tubuh yang terus melakukan regenerasi atau pembelahan diri secara berlebihan dan terus-menerus. Jika tubuh kita dalam keadaan normal, maka sel-sel dalam tubuh kita hanya akan meregenerasi diri atau membelah dirinya ketika dibutuhkan misalnya saat ada serangan virus atau bakteri yang merugikan dan saat ada sel tubuh yang mati atau rusak untuk menggantikannya. Sebagai akibat dari pembelahan sel tubuh yang tidak terkontrol inilah maka akan terjadi penumpukan sel dalam jumlah besar yang tentu saja mengganggu metabolism tubuh, kondisi ini sering kali disebut dengan pertumbuhan tumor. Dalam kondisi tertentu penumpukan dan pembelahan sel-sel baru tersebut akan menyebar keluar jaringan dan terjadi dengan cepat serta tidak terkendali dan tentu saja menyebabkan kerusakan, kondisi inilah yang dikatakan sebagai serangan penyakit kanker atau tumor ganas. Maka banyak dikatakan bahwa penyakit kanker adalah tumor ganas. Ada banyak sebab tentunya mengapa sel-sel dalam tubuh kita dapat membelah secara tidak terkontrol sehingga memicu pertumbuhan tumor. Dan mengapa tumor tersebut berubah menjadi ganas sehingga menyebabkan serangan penyakit kanker. Itulah mengapa penting bagi kita untuk mempelajari tentang penyakit kanker. Penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami cara menghadapi serangan penyakit kanker, mendeteksi adanya serangan penyakit kanker dan yang paling penting adalah untuk mengetahui cara mencegahnya. |
| Blueberry Bisa Cegah Kanker dan Diabetes? Posted: 07 Feb 2015 01:00 AM PST DokterSehat.Com – Blueberry adalah tanaman yang tergolong genus Vaccinium. Tanaman ini berasal dari Amerika bagian utara. Buah blueberry berwarna hijau pucat ketika belum matang, kemudian berubah menjadi ungu ketika sudah matang. Buah tersebut biasanya memiliki semacam mahkota dibagian bawah. Blueberry telah lama diketahui mengandung antioksidan yang hebat bernama resveratol. Antioksidan ini tidak hanya menyehatkan, namun juga mampu membantu mencegah kanker. Selain resveratol, blueberry juga menangudung zat lain yang dapat membantu menurunkan jumlah lemak serta mengurangi risiko diabetes. Zat yang dimaksud bernama pterostilbene. Zat ini merupakan salah satu jenis zat kimia seperti resveratol yang juga dijumpai di buah lain seperti cranberry dan anggur. Namun demikian, pterostilbene tampaknya masih belum banyak diteliti. Penelitian mengenai buah blueberry ini dilakukan oleh Carlos III Institute of Health dan menemukan bahwa pterostilbene mempunyai ukuran yang sangat kecil dan dapat menembus membran sel pada sel kanker. Selain itu zat ini juga dapat menyebabkan kematian sel kanker. Pterostilbene diketahui juga dapat membuat sel kanker menjadi semakin lemah dengan cara mencegahnya untuk menghasilkan energi. Manfaat dari pterostilbene tidak hanya itu saja. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa zat ini juga dapat mencegah diabetes dan obesitas, serta melindungi jantung. Para peneliti menemukan bahwa zat pterostilbene dapat meningkatkan oksidasi lemak pada lever dan juga mengurangi sintesis lemak pada jaringan. Proses ini nantinya akan memicu pengurangan lemak dalam tubuh. Sedangkan penelitian lainnya yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition menemukan hal yang sama di mana pterostilbene dapat membantu melindungi sel beta yang ada dalam pankreas. Sel beta ini berfungsi mengontrol insulin dan menjaganya agar tetap stabil. Hal tersebut pada akhirnya akan mencegah resistensi insulin yang menjadi pemicu diabetes tipe 2. Pterostilbene diketahui juga dapat mencegah pengerasan arteri yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, zat ini juga bisa membantu meningkatkan efektivitas obat HIV. Walaupun demikian, sampai saat ini pterostilbene tampaknya masih jarang diteliti dan memerlukan lebih banyak lagi percobaan untuk mengetahui potensi kesehatan lainnya. |
| Perut Terasa Sakit Dan Susah Buang Air Kecil Posted: 06 Feb 2015 11:29 PM PST Pertanyaan Konsultasi Selamat sore dokter, perut saya dibawah pusat terasa sakit sekali, dan pinggang saya juga terasa panas dan pegal, terus kalau saya buang air kecil rasanya sakit sekali. Tolong penjelasaannya dokter. Terimakasih Salam Ibu Sarinah Jawaban Konsultasi Kemungkinan ada gangguan pada saluran kemih anda, seperti batu, infeksi, peradangan, dan lain-lain. Sebaiknya periksakan langsung ke dokter. Terimakasih Salam dr. Vanny Bernadus |
| Beragam Manfaat Daun Ketumbar Bagi Kesehatan Posted: 06 Feb 2015 10:17 PM PST DokterSehat.Com – Ada beragam tanaman herbal di sekitar anda yang biasa dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Selain dalam bentuk akar-akaran, tanaman herbal juga banyak ditemukan dalam bentuk daun. Salah satunya adalah daun ketumbar, atau biasa disebut dalam bahasa Inggris dengan nama Coriander leaves. Daun ketumbar menawarkan banyak manfaat kesehatan bagi tubuh, sebagian diantaranya adalah sebagai berikut :
|
| Orang Optimis Memiliki Jantung Lebih Sehat Posted: 06 Feb 2015 05:42 PM PST DokterSehat.Com – Orang yang memiliki pandangan optimis dalam hidupnya memiliki kesehatan kardiovaskular yang lebih sehat secara signifikan. Para peneliti yang dipimpin oleh Rosalba Hernandez dari University of Illinois melibatkan sekitar 5.100 peserta yang berusia 45-84 tahun. Selain menjawab kuesioner yang meliputi kesehatan mental dan tingkat optimisme, para peserta juga memberi informasi mengenai kesehatan fisik berkaitan dengan arthritis, penyakit hati dan ginjal mereka. Sebagai ukuran untuk kesehatan jantung, para peneliti menggunakan tujuh parameter yang ditetapkan oleh American Heart Association yang mencakup tekanan darah, indeks massa tubuh, gula darah puasa dan kadar kolesterol. Mereka juga mempertimbangkan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan jantung seperti nutrisi, aktivitas fisik, merokok, ras, usia, pendapatan dan pendidikan peserta. Dua kali lebih besar Orang-orang yang optimis berpeluang dua kali lebih besar untuk memiliki jantung yang sehat dibandingkan mereka yang pesimis, tulis Hernandez. Para peserta dengan tingkat optimisme tertinggi memiliki peluang dua kali lebih tinggi untuk memiliki skala kesehatan jantung yang ideal. Mereka memiliki tekanan darah, kadar gula darah dan lemak darah yang lebih baik. Selain itu, mereka juga lebih aktif secara fisik, memiliki rata-rata BMI lebih rendah dan lebih jarang merokok. Secara keseluruhan, kesehatan mereka secara signifikan rata-rata lebih baik daripada peserta studi yang pesimis. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa setiap tambahan poin pada skala kesehatan jantung mengurangi risiko stroke sebesar delapan persen. Strategi yang bertujuan untuk meningkatkan kondisi mental dan optimisme masyarakat bisa menjadi cara yang baik untuk meningkatkan kesehatan jantung dalam populasi, kata Hernandez. Stres lebih rendah Kesehatan jantung yang lebih baik itu mungkin disebabkan oleh stres yang lebih rendah, yang berhubungan dengan sikap optimis. Optimisme juga dapat berdampak tidak langsung terhadap kesehatan jantung dengan meningkatkan kemungkinan untuk gaya hidup sehat dan menjauhi gaya hidup buruk seperti merokok dan diet berlebihan. Penelitian tidak menggali lebih lanjut mengapa sebagian orang bersikap optimistis sedangkan sebagian lainnya bersikap pesimistis. Sebagai orang yang beragama, kita percaya bahwa keimanan yang benar kepada Tuhan membuat kita selalu optimis menjalani hidup. Kesulitan hidup tidak membuat kita kehilangan harapan karena kita selalu yakin akan pertolongan Tuhan. |
| Posted: 06 Feb 2015 05:38 PM PST DokterSehat.Com – Nyeri psikogenik adalah nyeri yang dirasakan secara fisik yang timbulnya, derajat beratnya, dan lama berlangsungnya dipengaruhi oleh faktor mental, emosi, dan perilaku. Beberapa penelitian klinis menunjukan bahwa induksi nyeri secara sengaja pada seseorang akan memberikan hasil rasa nyeri yang tidak terlalu signifikan jika orang tersebut sedang berada dalam kondisi psikologis yang baik, tenang, damai, bahagia. Nyeri umumnya dirasakan lebih berat ketika seseorang mengalami gangguan psikiatri tertentu terutama depresi ataupun cemas. Nyeri psikogenik yang murni psikologis umumnya ditandai dengan rasa nyeri yang menyebar, tidak terbatas pada suatu letak anatomis tertentu, dan tersebar pada banyak lokasi. Nyeri timbul tanpa adanya riwayat trauma fisik yang jelas sebelumnya atau timbul tanpa sebab. Pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, hingga CT Scan, dan penunjang lainnya tidak dapat menunjukan adanya suatu masalah organ atau gangguan fisik tertentu. Nyeri tidak dapat hilang sepenuhnya atau seluruhnya walaupun sudah mendapatkan obat penghilang nyeri bahkan yang diberikan langsung ke dalam pembuluh darah (intra vena). Emosi dan motivasi merupakan isu pokok yang mendasari timbulnya nyeri. Peyebab Di dalam ilmu psikiatri, nyeri psikogenik merupakan suatu mekanisme coping yaitu mekanisme adaptasi mental yang digunakan oleh seseorang dalam menghadapi masalah. Nyeri timbul akibat penekanan konflik psikis yang tidak dapat ditolerir. Penekanan konflik psikis ini memicu keluarnya hormon stres di dalam tubuh yang memicu perubahan sistem saraf otonom dan hormonal dalam tubuh. Pengaruh dari perubahan inilah yang pada akhirnya memicu timbulnya perasaan nyeri. Nyeri psikogenik juga dapat merupakan gejala dari suatu gangguan psikiatri yang dinamakan kelompok gangguan somatisasi. Pada gangguan ini, nyeri muncul tanpa adanya gangguan sebenarnya pada tubuh. Jadi nyeri merupakan respon secara langsung dari konflik psikologis yang dipindahkan pada tubuh. Secara psikologis, penderita gangguan somatisasi lebih dapat menerima bahwa nyeri yang mereka rasa adalah problem fisik sementara rasa sakit yang mereka rasakan secara psikis disangkal dan dipindahkan pada tubuh. Depresi dan cemas diketahui meningkatkan sensitifitas nyeri. Terutama pada penderita depresi lansia, sangat sering mengeluhkan berbagai problem fisik seperti sakit kepala. Pada pasien yang baru melewati operasi, beratnya gejala nyeri sudah dibuktikan bergantung dari derajat kecemasan pasien tersebut. Nyeri psikogenik yang ditemukan bersamaan dengan gangguan atau kondisi psikiatri tertentu harus dieksplorasi dengan lebih baik, selain untuk mencari penyebab dari nyeri, juga untuk menentukan tatalaksana yang tepat. Diagnosis Diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan neurologis dan psikiatrik secara menyeluruh. Diagnosis nyeri psikogenik harus didasarkan atas adanya faktor psikologis yang jelas yang berhubungan dengan rasa nyeri tersebut atau diketahui kondisi psikiatri yang jelas yang mungkin berhubungan dengan rasa nyeri. Jadi diagnosis tidak semata-mata ditegakan bila tidak ditemukannya dasar organik sebagai penyebab nyeri. Meski nyeri psikogenik juga dapat menyertai suatu sakit fisik yang nyata. Pasien yang sering mengeluhkan sakit kepala berulang atau sakit bagian tubuh lain berulang terutama ketika terdapat kondisi stres tertentu, banyak yang sebetulnya menderita nyeri psikogenik ini. Stigma pada Nyeri Psikogenik Para penderita nyeri psikogenik umumnya mengalami stigma baik dari kalangan medis sendiri maupun masyarakat umum. Mereka memandang bahwa rasa nyeri yang timbul dari konflik psikologis ini tidaklah nyata bila dibandingkan rasa nyeri yang timbul akibat kelainan organ atau fungsi anatomis dan fisiologis tubuh. Para penderita nyeri psikogenik sering dianggap berpura-pura dan akhirnya tidak diberikan penatalaksanaan yang tepat. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi ini menyebabkan tatalaksana tidak maksimal. Model biopsikososial menunjukan bahwa dalam terapinya, bukan hanya pasien saja yang menjadi fokus terapi namun lingkungan sosial dan keluarga inti perlu dilibatkan dalm proses terapi Tatalaksana Nyeri Psikogenik Tatalaksana nyeri psikogenik tidak dapat hanya mengandalkan pada terapi farmakologis semata-mata namun amat perlu ditunjang dengan tatalaksana secara non farmakologis. Terapi non farmakologis terutama terpusat pada psikoterapi yang lebih berorientasi pada psikodinamika pasien ataupun psikoterapi CBT. Hal ini disebabkan karena nyeri muncul akibat konflik-konflik psikologis yang tidak terselesaikan dengan baik. Penanganan pasien dengan nyeri psikogenik, memerlukan ketelitian lebih dari dokter pemeriksa. Pasien dengan nyeri psikogenik biasanya akan 'memaksa' dokter untuk melakukan pemeriksaan medis berulang mulai dari pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang. Pasien akan terus berusaha mendapatkan penjelasan mengenai gejala-gejala yang dialaminya dan hal ini dapat membuat frustasi baik pasien sendiri maupun dokter pemeriksa. Pada kondisi yang berat, dapat terjadi kondisi di mana pasien akhirnya mendapatkan tindakan operatif berulang akibat nyeri yang dirasakannya yang sebetulnya tidak tepat. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengeksplorasi faktor psikologis sebagai dasar dari kondisi nyeri tersebut. Dalam tatalaksana juga sangat penting untuk tidak memberikan kesan pada pasien bahwa nyeri yang dirasakannya hanyalah "khayalan" semata dan dokter harus menunjukan empati bahwa rasa nyeri tersebut memang nyata. Tatalaksana nyeri lebih dipusatkan pada perbaikan mekanisme coping pasien. Bila nyeri psikogenik merupakan bagian dari suatu diagnosis psikiatrik tertentu maka terapi difokuskan pada kondisi psikiatrik utama yang menjadi sumber timbulnya rasa nyeri. Jika nyeri merupakan bagian dari kondisi depresi yang terselubung yaitu kondisi depresi tanpa ditemukannya gejala mood depresi dan gejala-gejala lainnya maka pemberian antidepresan akan menjadi terapi pilihan utama. Sedangkan dalam kondisi yang jarang, nyeri dapat juga dialami sebagai bagian dari gejala halusinasi pada psikotik maka pada kondisi ini, terapi farmakologis dengan antipsikotik menjadi pilihan yang utama. |
| You are subscribed to email updates from Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan - Dokter Sehat To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Add Comments