Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia |
- Makan Buah Justru Bikin Gemuk, Benarkah?
- Masak Dengan Minyak Kelapa, Sehatkah?
- Kesulitan BAB Waspada Kanker Usus!
- Rahang Terasa Sakit Dan Nyeri
- Hati-hati, Makan Berlebihan Bisa Merusak Otak
- Waspadai Kanker Usus Di Balik Kenikmatan Sosis
- Siklus Menstruasi Pasca Melahirkan
| Makan Buah Justru Bikin Gemuk, Benarkah? Posted: 10 Mar 2015 08:00 AM PDT DokterSehat.Com – Saat Anda memutuskan untuk menurunkan berat badan atau melakukan diet, maka Anda pasti akan dianjurkan untuk banyak makan buah dan sayur serta menghindari makanan berlemak dan gorengan. Itu sudah pasti. Namun ada juga buah yang bisa membuat gemuk, jika Anda ingin meningkatkan berat badan. Nah, apakah buah-buahan ini juga berpengaruh terhadap proses penurunan berat badan Anda? Seperti dikutip dari healthmeup.com, buah merupakan makanan kaya nutrisi dan antioksidan yang baik untuk tubuh sekaligus makanan sehat yang bisa mempengaruhi berat badan, baik naik atau menurunkannya. Yang perlu Anda ketahui adalah memilih buah yang tepat untuk tujuan yang ingin Anda capai. Buah memiliki indeks glikemik (GI) atau kadar gula yang tinggi Seperti yang Anda ketahui, kebanyakan buah memiliki rasa manis dan segar yang membuatnya banyak disukai. Buah seperti mangga, pisang, melon, kurma, dan nanas merupakan contoh buah yang sangat manis. Secara otomatis menunjukkan bahwa buah-buah ini juga punya kadar gula yang tinggi. Inilah yang membuat buah bisa mempengaruhi level insulin, memungkinkan penimbunan gula menjadi lemak dan bisa merusak rencana penurunan berat badan Anda. Pisang adalah salah satu makanan diet penurunan berat badan yang baik, bahkan banyak dianjurkan untuk dikonsumsi karena mengenyangkan. Tentu saja Anda boleh makan pisang, namun perlu dibatasi jumlahnya, tidak lebih dari 4 buah per hari. Saat diet, memang Anda perlu makan buah, namun jangan terlalu banyak mengonsumsi buah manis seperti mangga, leci, kelengkeng, melon dan pisang. Selagi makan buah manis, imbangi juga dengan perbanyak buah yang tidak terlalu manis seperti strawberry, pir, anggur, alpukat, tomat, apel dan jeruk. Nah, kini tahu kan mengapa buah bisa menggemukkan? Anda hanya perlu mengatur kapan harus makan buah yang tepat dan berapa porsi yang cukup untuk dikonsumsi setiap harinya. |
| Masak Dengan Minyak Kelapa, Sehatkah? Posted: 10 Mar 2015 05:00 AM PDT DokterSehat.Com – Jika Anda mendengar kata minyak, Anda pasti teringat dengan minyak goreng yang biasa digunakan untuk menggoreng, menumis dan lain sebagainya. Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak goreng dari tumbuhan biasanya dihasilkan dari tanaman seperti kelapa, biji-bijian, kacang-kacangan, jagung, kedelai, dan kanola. Namun jika Anda ingin mencari alternatif minyak yang lebih sehat, maka sebaiknya ganti minyak sayur yang Anda gunakan dengan minyak kelapa untuk memasak. Seperti dilansir dari stylecraze.com, minyak kelapa memiliki lebih sedikit kalori, mengandung asam laurat kaya antioksidan (seperti yang ditemukan dalam ASI) dan non-kolesterol daripada minyak sayur. Minyak kelapa, meskipun tidak memiliki protein dan karbohidrat, akan tetapi dapat membantu menyerap mineral dan nutrisi lainnya yang masuk ke tubuh. Minyak VCO atau virgin coconut oil juga mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang tahan terhadap suhu panas yang tinggi sehingga tidak merusak minyak dan mengubahnya menjadi lemak jenuh atau racun yang berbahaya saat digunakan untuk memasak. Selain digunakan untuk memasak atau campuran makanan, minyak kelapa juga baik digunakan begitu saja untuk merawat kesehatan kulit dan memperbaiki rambut rusak karena kandungan nutrisi dan antioksidannya yang tinggi. Meski memang belum banyak penelitian yang menunjukkan minyak kelapa merupakan pengganti terbaik minyak sayur, namun dilihat dari kandungan nutrisi dan potensinya, minyak kelapa memang lebih baik untuk kesehatan daripada minyak sayur. |
| Kesulitan BAB Waspada Kanker Usus! Posted: 10 Mar 2015 02:00 AM PDT DokterSehat.Com – Bila Anda sering susah buang air besar, sering sakit perut atau sembelit sebaiknya waspada. Bisa jadi gangguan yang Anda alami merupakan salah satu bentuk gejala kanker usus besar atau kanker kolorektal. Seperti diungkap Dr Adil Pasaribu, Sp.B.KBD, dokter spesialis bedah kanker dari RS Dharmais Jakarta, sebagian orang saat ini mengabaikan gejala sakit perut, susah buang besar dan perubahan siklus buang air besar. Padahal, gejala-gejala itu merupakan bagian dari pertanda adanya penyakit kanker kolorektal. Kita bisa mendeteksi dari feses atau kotoran. Bila kotoran yang keluar berwarna darah atau hitam. Dan bila suatu saat mengalami hal itu, itu sudah tanda-tanda. Segeralah langsung datang ke dokter untuk memastikan apakah kondisi itu akibat tumor yang berkembang di dalam usus, katanya dalam acara yang bertema Updates & Strategies Emergency Colonic Surgery di RS. MRCCC Siloam Hospital Semanggi, lantai 36, Jakarta Pusat, Sabtu (12/10/2013). Bila seseorang memiliki riwayat keluarga mengalami kanker disarankan untuk melakukan screening sejak dini untuk bisa mencegah sel kanker muncul di masa depan. Bila orangtua kita memiliki riwayat kanker, disarankan untuk seseorang, meski masih muda, melakukan pemeriksaan sejak dini. Pasalnya, faktor risiko ia bakal mengidap kanker usus besar sangat tinggi dibanding orang normal, terangnya. |
| Posted: 09 Mar 2015 11:07 PM PDT Pertanyaan Konsultasi Selamat sore dokter, rahang saya di sebelah kanan terasa nyeri. Terutama di malam hari, sudah lama tetapi masih belum sembuh-sembuh. Nyerinya pas di depan telinga, itu penyebabnya apa ya? Kebetulan di atas rahang saya ada 2 gigi yang tumbuh tidak sejajar miring keluar sebelah pipi dan di bawah ada 1 gigi tumbuh miring kebawah. Apakah itu harus di cabut atau bisa di betulin giginya? Terimakasih Salam Bapak Dart Jawaban Konsultasi Kemungkinan rasa nyerinya akibat posisi gigi yang tidak lurus. Sebaiknya periksakan dulu ke dokter gigi. Trims Salam dr. Vanny Bernadus |
| Hati-hati, Makan Berlebihan Bisa Merusak Otak Posted: 09 Mar 2015 11:00 PM PDT DokterSehat.Com – Makan secara berlebihan selama ini kerap dikaitkan dengan obesitas atau kegemukan. Namun riset terbaru menunjukkan, makan terlalu banyak juga dapat meningkatkan risiko penurunan kemampuan otak, terutama pada orang tua. Para ahli mengatakan, orang-orang berusia 70 tahun atau lebih tua yang mengasup antara 2.100 dan 6.000 kalori setiap hari berisiko dua kali lipat mengalami penurunan fungsi memori, yang bisa menjadi tanda awal penyakit kepikunan atau Alzheimer. Konsumsi kalori yang berlebihan setiap hari tidak baik untuk kesehatan otak,” kata pemimpin peneliti Dr Yonas Geda, yang juga profesor neurologi dan psikiatri di Mayo Clinic, Scottsdale, Arizona Amerika Serikat. Ini mungkin terdengar seperti klise, tapi kita perlu memperhatikan konsumsi kalori sehari-hari. Intinya adalah makan secukupnya, tidak dalam jumlah berlebih, demi kesehatan otak Anda, tambahnya. Dalam risetnya, peneliti menganalisa data lebih dari 1.200 responden berusia 70-89 tahun yang tinggal di Olmsted County, Minnesota. Di antara orang berusia lanjut ini, 163 di antaranya telah didiagnosa mengalami penurunan memori yang dikenal sebagai “kerusakan kognitif ringan. Responden melaporkan kepada peneliti seberapa banyak mereka makan. Sepertiga dari total responden mengaku makan antara 600 – 1.525 kalori sehari, sepertiga yang lainnya antara 1.526 – 2.142 kalori per hari, dan sepertiga peserta lainnya 2.143 – 6.000 kalori dalam sehari. Hasil analisa mengindikasikan bahwa di antara responden yang makan paling banyak, risiko didiagnosa mengalami gangguan memori tercatat lebih tinggi yakni dua kali lipat lebih besar ketimbang mereka yang makan sedikit. Sementara itu, pada peserta yang porsi makannya sedang, peneliti tidak menemukan adanya risiko untuk masalah memori. Hasil kajian ini tetap sama setelah peneliti memperhitungkan beberapa faktor seperti riwayat stroke, diabetes, pendidikan serta faktor risiko lain terkait penurunan memori. Kami juga memperhitungkan BMI (body mass index) dan obesitas. BMI adalah pengukuran berdasarkan tinggi dan berat badan. Tapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara peserta normal dan gangguan kognitif ringan, kata peneliti. Peneliti mengungkapkan, meski belum diketahui secara pasti mengapa makan berlebih dapat memengaruhi otak, namun peneliti menduga “asupan kalori yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan oksidatif, yang menyebabkan perubahan struktural dalam otak, jelas Geda. Mengomentari riset tersebut, Dr Neelum Aggarwal, seorang profesor ilmu saraf di Rush University, Chicago, mengatakan bahwa temuan ini memungkinkan dokter untuk melakukan diskusi kepada pasien tentang hubungan antara praktek hidup sehat seperti mengasup makanan bergizi dan membatasi gula dengan fungsi otak secara keseluruhan. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendiskusikan hal apa saja yang dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif dan menawarkan strategi untuk pencegahan penyakit melalui nutrisi dan pembatasan kalori, kata Aggarwal. Pakar lain yakni David Loewenstein, profesor psikiatri dan tingkah laku di University of Miami Miller School of Medicine, mengatakan, temuan ini menambah bukti bahwa tingginya asupan kalori berkaitan dengan obesitas dan sindrom metabolik, sehingga tidak mengherankan meningkatnya asupan kalori berhubungan dengan gangguan kognitif. Sindrom metabolik adalah sekelompok faktor risiko terkait dengan penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya. Studi ini menunjukkan bahwa apa pun yang baik bagi jantung seperti mengurangi asupan kalori adalah baik pula untuk otak, jelas Loewenstein. |
| Waspadai Kanker Usus Di Balik Kenikmatan Sosis Posted: 09 Mar 2015 09:00 PM PDT DokterSehat.Com – Sosis merupakan makanan yang banyak di gemari, selain karena rasany rezat, makanan ini juga tergolong muda disajikan. Namun siapa sangka ternyata sosis berbahaya bagi kesehatan. Bahkan para ahli di Inggris belum lama ini kembali memperingatkan bahwa konsumsi sebatang sosis sehari dapat meningkatkan risiko kanker usus. Maka dari itulah, Anda sebaiknya berhati-hati mengonsumsi sosis atau produk daging olahan. Seperti dilaporkan surat kabar The Star, Martin Wiseman dari World Cancer Research Fund (WCRF), memperingatkan konsumen akan ancaman penyakit kanker bila terlalu sering mengonsumsi makanan nan lezat ini. Ia juga mengingatkan konsumen untuk mewaspadai bacon dan menyatakan bahwa dengan hanya mengonsumsi 50 gram makanan daging olahan setiap hari dapat meningkatkan risiko mengidap kanker hingga 20 persen. Hampir setahun lalu, Wiseman juga menyuarakan peringatan yang sama akan bahaya terlalu sering mengonsumsi daging olahan ini termasuk di dalamnya ham, pastrami, salami dan hot dog. Makanan daging olahan memang dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu dan zat pengawet. Ada yang kemudian diasap, dimasukkan dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing). Wiseman menambahkan, laporan yang dirilis pihaknya mungkin bukan hal yang baru, tetapi yang justru ironis adalah hampir dua pertiga masyarakat khususnya di Inggris tidak sadar atau waspada akan isu ini. Kami sekarang lebih yakin dari sebelumnya bahwa memakan daging olahahan dapat meningkatkan risiko mengidap kanker usus, ujarnya. Daging merah, termasuk di dalamnya sapi, babi, domba, sejauh ini dikaitkan dengan kanker usus. Meskipun demikian para ahli merekomendasikan bahwa daging merah boleh dikonsumsi secara moderat (kurang dari 500g per hari) selama mengandung nutrisi yang sangat penting. Banyak hasil penelitian ilmiah yang menemukan bahwa kanker usus lebih sering ditemukan pada orang yang sering mengonsumsi daging merah dan produk daging olahan, ungkap Sara Hiom, direktur informasi kesehatan Cancer Research di Inggris Sementara itu David Spiegelhalter, seorang Professor Public Understanding of Risk dari Cambridge University, berpendapat satu di antara 18 pria memiliki kemungkinan mengalami kanker usus, sedangkan wanita satu di antara 20. Hitungan tersebut, menurut David Spiegelhalter adalah risiko seumur hidup. Nilai gizi Sosis merupakan produk polahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya. Produk olahan sosis kaya energi, dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan. Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen. Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis. Baca label dengan teliti Seiring dengan berkembangnya industri pangan, saat ini telah dikembangkan sebuah inovasi baru, yaitu sosis siap makan tanpa perlu dimasak atau dipanaskan terlebih dulu. Dengan begitu, sosis dapat dimakan sebagai snack. Saat ini juga mulai banyak dijual sosis steril, yaitu sosis yang dibuat melalui proses sterilisasi sehingga awet untuk disimpan pada suhu kamar, selama beberapa waktu. Sosis tersebut tinggal dibuka dari kemasannya dan langsung dapat dimakan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak sosis yang cukup tinggi. Konsumsi sosis sebagai snack hendaknya memperhatikan faktor-faktor kesehatan seperti obesitas dan kolesterol. Sosis dengan kadar lemak rendah dapat menjadi pilihan. Karena itu, sebaiknya membiasakan diri membaca label secara seksama sebelum memutuskan untuk membeli dan mengonsumsi sosis. |
| Siklus Menstruasi Pasca Melahirkan Posted: 09 Mar 2015 06:00 PM PDT DokterSehat.Com – Perubahan kadar hormon membawa banyak perubahan fisik pada wanita yang dialami pada saat pubertas dimana salah satunya ditandai dengan mulai aktifnya reproduksi, yaitu menstruasi. Seorang ibu yang menyusui anaknya memiliki siklus haid yang berbeda dengan ibu yang hanya memberi botol formula. Mereka cenderung mengalami menstruasi lebih terlambat dari pada ibu yang tidak menyusui. Dalam suatu kasus, masa penantian menstruasi setelah melahirkan bisa hingga setahun setelah kelahiran sang bayi. Seperti yang dilansir oleh babycentre.uk, seorang ibu yang cenderung memiliki bayi tenang dan tidak berisik saat malam hari, memiliki kemungkinan untuk menstruasi lebih awal. Namun apabila ditilik secara rata-rata, periode menstruasi seorang ibu setelah melahirkan biasanya antara 3-8 bulan. Pada intinya adalah, semakin intensif anda menyusui sang bayi dan semakin lama dia menyusu kepada anda, semakin lama pula masa penantian menstruasi melahirkan. Meskipun seorang ibu sedang dalam masa menyusui, hal tersebut tidak menjamin berhentinya proses ovulasi. Apabila alat reproduksi sang ibu masih bisa berovulasi, kemungkinan hamil saat menyusui pun bisa terjadi. Sehingga ada baiknya untuk tidak mengabaikan kegunaan alat kontrasepsi meski sedang menyusui. Bergantung sepenuhnya pada proses menyusui tanpa menggunakan alat kontrasepsi tak sepenuhnya bisa mencegah kehamilan. Akan tetapi apabila sang ibu rutin menyusui dan usia sang bayi dibawah enam bulan dan belum menstruasi sama sekali, tanpa alat kontrasepsi pun sudah cukup. Memang, perbedaan kecepatan masa mesntruasi setelah melahirkan tergantung pada pilihan kita untuk menyusui atau tidak menyusui sang bayi. Menurut beberapa ahli, sekitar 80% wanita yang tidak menyusui mendapatkan menstruasi 3 bulan sesudah melahirkan. Ini memang masa yang lebih cepat dibandingkan dengan ibu yang menyusui. Namun, sekali lagi keputusan tersebut tidak bisa menjadi patokan untuk menentukan lebih cepatnya seseorang mengalami menstruasi karena setiap ibu memiliki hormon yang berbeda-beda. Berdasarkan penuturan kebanyakan ibu yang telah melahirkan, seringkali darah menstruasi pertama kali setelah melahirkan begitu kental dan sangat deras sehingga tak jarang para ibu menggunakan dua pembalut untuk mencegah kebocoran. Tentu saja, menstruasi adalah karakteristik yang secara khusus dimiliki oleh perempuan dan dengan kadar hormon yang berbeda, terjadinya menstruasi setelah melahirkan pun juga bisa berbeda-beda. |
| You are subscribed to email updates from Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan - Dokter Sehat To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Add Comments